REPE PATI KA DI KAMPUNG LOKALANDE: MAKNA SIMBOLIK DAN RELEVANSI TEOLOGIS SAKRAMEN EKARISTI DALAM PERSPEKTIF INKULTURASI

Authors

  • Vinsensius Mbete IFTK Ledalero Author

Keywords:

Repe Pati Ka, Ekaristi inkulturasi, Teologi kontekstual

Abstract

Tradisi Repe Pati Ka di Kampung Lokalande merupakan salah satu bentuk ritus adat masyarakat Lio yang sarat makna religius dan sosial. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam dinamika kehidupan komunal, terutama dalam konteks hubungan manusia dengan leluhur, sesama, dan alam ciptaan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik dan teologis dari tradisi Repe Pati Ka serta menemukan relevansinya dengan Sakramen Ekaristi dalam Gereja Katolik. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna simbolik dan teologis dari tradisi Repe Pati Ka serta menguraikan relevansinya dengan Sakramen Ekaristi dalam Gereja Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan umat Katolik setempat, serta analisis dokumen dan kajian teologi inkulturatif Gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Repe Pati Ka mengandung simbol-simbol pengorbanan, persekutuan, dan ucapan syukur yang paralel dengan makna teologis Ekaristi sebagai kenangan akan pengorbanan Kristus, persekutuan umat Allah, dan tindakan syukur atas karya keselamatan. Elemen berbagi makanan, doa bersama, dan solidaritas sosial yang tampak dalam ritus ini merefleksikan dimensi communio dan koinonia yang menjadi inti dalam perayaan Ekaristi. Dalam terang teologi inkulturatif, Repe Pati Ka dapat dipandang sebagai ekspresi iman yang kontekstual, di mana nilai-nilai Injili menemukan perwujudannya dalam kebudayaan lokal. Dengan demikian, tradisi ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi titik temu antara iman dan budaya, antara altar Gereja dan altar kehidupan masyarakat. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan inkulturatif dalam pewartaan dan penghayatan iman Katolik di tengah pluralitas budaya, agar Gereja sungguh hadir sebagai tanda keselamatan Allah dalam konteks kehidupan umat setempat.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Douglas, M. (2002). Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. London: Routledge.

Eliade, M. (1959). The Sacred and the Profane: The Nature of Religion. New York: Harcourt Brace & Company.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Gereja Katolik. (1997). Katekismus Gereja Katolik. Ende: Nusa Indah.

John Paul II. (1999). Ecclesia in Asia: Post-Synodal Apostolic Exhortation. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana.

Konsili Vatikan II. (1965). Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini). Vatican City: Libreria Editrice Vaticana.

Lévi-Strauss, C. (1966). The Culinary Triangle. Partisan Review, 33(4), 586–595.

Mangunhardjana, A. G. (1987). Inkulturasi: Proses Penghayatan Iman dalam Budaya. Yogyakarta: Kanisius.

Nouwen, H. J. M. (1992). Life of the Beloved: Spiritual Living in a Secular World. New York: Crossroad Publishing.

Pieris, A. (1988). An Asian Theology of Liberation. Maryknoll, NY: Orbis Books.

Pope Francis. (2013). Evangelii Gaudium: Apostolic Exhortation on the Proclamation of the Gospel in Today’s World. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana.

Ricoeur, P. (1976). Interpretation Theory: Discourse and the Surplus of Meaning. Fort Worth: Texas Christian University Press.

Shorter, A. (1988). Toward a Theology of Inculturation. Maryknoll, NY: Orbis Books.

Downloads

Published

2026-07-07

Issue

Section

Articles

How to Cite

REPE PATI KA DI KAMPUNG LOKALANDE: MAKNA SIMBOLIK DAN RELEVANSI TEOLOGIS SAKRAMEN EKARISTI DALAM PERSPEKTIF INKULTURASI. (2026). Jurnal Teologi Eranlangi, 3(1), 26-39. https://e-jurnal.sttsulbar.ac.id/index.php/jte/article/view/20

Similar Articles

1-10 of 18

You may also start an advanced similarity search for this article.